Rabu, 16 April 2014
makalah studi sosial PSK pegawai seks komersial
STUDI
SOSIAL
“Pekerja
Seks Komersial“
Dr.
R. M. Sinaga, M. Hum.
Disusun oleh:
Adi Wiranata NPM 1313033003

PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah, segala puji bagi Allah
SWT yang telah memberikan kesempatan dan kesadaran, karena penyusun dapat
menyelesaikan dapat menyelesaikan makalah ini pada waktu yang telah di tentukan
dan makalah ini sebagai salah satu tugas matakuliah Studi Sosial yang
berjudul “Pekerja Seks Komersial”
Judul ini dipilih karena penyusun tertarik dengan masalah pekerja Seks
Komersial yang semakin banyak di Indonesia. Tentunya banyak dampak dari itu,
yang menuntut penyelesaian.
Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna,sehingga penyusun mengharap
kritik dan saran dari pembaca agar pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih
baik.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam proses
pembuatan makalah ini,sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Bandar Lampung, 10 April 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGATAR .............................................................................................i
DAFTAR
ISI .........................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN………………………………………………………...1
1.1
Latar
Belakang.................................................................................1
1.2
Tujuan..............................................................................................1
1.3
Manfaat............................................................................................2
1.4
Rumusan
Masalah..................................... ......................................2
1.5
Sistematika
penulisan.......................................................................2
BAB
II LANDASAN TEORI……………………………………………………3
2.1 Pengertian
Pekerja Seks Komersial...................................................3
2.2 Pelacuran Menurut
Agama................................................................3
2.3 Faktor-faktor
pendukung perilaku seks pada remaja.........................5
2.4 Ciri khas
PSK.....................................................................................6
2.5 Katagori
PSK.....................................................................................7
2.6 Faktor-faktor
penyebab adanya PSK.................................................8
2.7 persoalan
psikologis...........................................................................9
2.8 Dampak yang di
timbulkan..............................................................10
2.9 Penanganan
masalah PSK...............................................................10
BAB
III PEMBAHASAN………………………………………………………11
3.1 Pengertian
prostitusi dan permasalahannya......................................11
3.2 Motif yang melatar belakangi
PSK..................................................13
3.3 Akibat dari
PSK................................................................................13
3.4 Masalah-masalah yang timbul dari
PSK...........................................14
3.5 PSK pekerja tak
bermoral.................................................................15
3.6 Peran petugas sebagai
kesehatan......................................................15
BAB
IV PENUTUP………………………………………..……………………16
4.1 Kesimpulan……………………………….......................…………16
4.2 Saran……………………………………..........................…………16
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………...17
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dari
sejak dulu PSK sudah menjadi akar di dunia ini, sebagian yang melakukan pekerja
sexs komersial, karena faktor ekonomi dan frustasi dengan keadaan yang ada.
Pekerjaan ini sudah menjadi lumrah bagi mereka yang melakukaknnya, bahkan ada
sebuah desa yang menjadi sarana dan prasarana mereka untuk beroperasi
tanpa ada kendala dari masyarakat setempat, dan masyarakat tidak perduli
dengan apa yang mereka lakukan, pekerjaan tersebut sudah menjadi hal biasa bagi
masyarakat di desa tersebut. Bahkan para pekerja sexs komersial itu mendapatkan
izin untuk tinggal di desa tersebut dan mendapatkan fasilitas kesehatan secara
rutin.
Pada
tahun 1990, desa tersebut menjadi tempat pendatang bagi pekerja sexs
komersial untuk beroprasi dengan dikuatkan oleh para premanisme desa
tersebut sehingga mulai menguatkan mereka untuk terus beroprasi secara rutin
dan mulai merancabang dengan membuka café-café dan tempat untuk melakukan
hubungan intim.
Dan sejak tahun 1998 sampai sekarang, pekerja sexs komersial tidak bisa di
bubarkan. Sehingga desa tersebut menyetujui akan keberadaan mereka beroprasi
dan membuka cafe-cafe untuk mereka mencari nafkah dengan kesepakatan yang sudah
disepakati dengan para ulama, tokoh masyarakat, bahkan petugas keamanan
(polisi) ikut serta dalam kebijakan yang di buat dalam desa tersebut.
1.2 Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengetian dari pekerja seks komersial
2.
Untuk
mengetahui bagaimana pandangan agama terhadap pelacuran
3.
Untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya
seks
bebas pada remaja
4.
Untuk
mengetahui penyebab mereka memilih pekerjaan sebagai PSK
5.
Untuk
mengetahui dampak negative PSK
1.3
Manfaat
Makalah
ini diharapkan agar kita dapat mengetahui isi hati mereka yang
dipandang sebagai pekerjaan yang hina dan kotor tanpa melihat kondisi kehidupan
meraka yang penuh senyum dalam penderitaan yang mereka hadapi.
1.4 Rumusan
Masalah
Ada
beberapa permasalahan yang akan di bahas
1)
Pengertian
pekerja seks komersial (PSK)
2)
Faktor
pendukung perilaku seks pada remaja
3)
Dampak
yang di timbulkan seorang menjadi PSK
4)
peran
sebagai petugas kesehatan
1.5 Sistematika
penulisan
Rancangan
sistematika makalah ini terdiri atas beberapa bab yang akan dirinci sebagai
berikut :
BAB 1 : Pendahuluan
Berisi mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode pembahasan, dan
sistematika penulisan
BAB 2 : Landasan
teori
Berisi
mengenai : Pengertian Pekerja Seks Komersial, Pelacuran Menurut Agama,
Faktor-faktor pendukung perilaku seks pada remaja, Faktor-faktor penyebab
adanya PSK, persoalan psikologi, Dampak yang di timbulkan.
BAB
3 : pembahasan
Berisi
mengenai : Pengertian prostitusi dan permasalahan nya, Motif yang
menterbelakangi seorang menjadi PSK, Akibat dari PSK, Masalah-masalah yang
timbul dari PSK, PSK pekerja tak bermoral, Peran petugas sebagai kesehatan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
Pekerja Seks Komersial
Pekerja
seks komersial adalah seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan
seksual demi uang. Di Indonesia Wanita Malam (pekerja seks komersial) sebagai
pelaku wanita pemikat lelaki hidung belang untuk memuaskan nafsu birahinya. Ini
menunjukkan bahwa prilaku perempuan Wanita Malam itu sangat begitu
buruk, hina dan menjadi musuh masyarakat.Mereka kerap dihina, dicaci
maki, bahkan jadi cemohan bagi semua orang yang benci terhadap mereka. Bila
tertangkap aparat penegak ketertiban, mereka juga digusur karena dianggap
melecehkan kesucian agama dan mereka direhabilitasi dan diberikan penyuluhan.
Pekerjaan Seks Komersial sudah dikenal di masyarakat sejak berabad
lampau, ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari
masa kemasa.
kalangan masyarakat
Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual
tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula
pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun
toh dibutuhkan (evil necessity).
2.2 Pelacuran Menurut Agama
Pekerja
seks komersial sangat diharamkan didalam setiap agama karena bisa merusak moral
maupun mengakibatkan hal yang negatif.
1.
Pandangan
Agama Islam mengenai pelacuran
Pelacuran
dalam Islam adalah haram hukumnya dan berdosa besar.
Islam juga melarang berkahwin dengan pelacur:
Dalam
hal ini ada suatu riwayat yang diceriterakan oleh Murtsid dari Abu Murtsid,
bahwa dia minta izin kepada Nabi untuk kahwin dengan pelacur yang telah
dimulainya perhubungan ini sejak zaman jahiliah, namanya: Anaq. Nabi tidak
menjawabnya sehingga turunlah ayat yang berbunyi:
Lelaki
tukang zina tidak (boleh) kahwin, melainkan dengan perempuan penzina dan
musyrik, dan perempuan penzina tidak (boleh) kahwin,melainkan dengan lelaki
penzina atau musyrik.Yang demikian diharamkan atas orang-orang mukmin.(Al-Quran
Surah An-Nur:3) Kemudian baginda bacakan ayat tersebut dan berkata:
"Jangan kamu kahwin dengan dia" (hadis riwayat Abu Daud,An-Nasa'i dan
Tarmiz
2.
Pandangan
dalam Perjanjian Baru
Agama
Yahudi di masa Perjanjian Baru (New Testament), khususnya di masa Jesus
menganggap negatif perlakuan pelacuran kerana itu orang baik-baik biasanya
tidak mau bergaul dengan mereka bahkan menjauhkan diri dari orang-orang seperti
itu. Namun demikian Jesus digambarkan dekat dengan orang-orang yang
disingkirkan oleh masyarakat seperti para pelacur, pemungut cukai, dll. Injil
Matius melukiskan demikian: "Kata Jesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan
mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah'." (Matius 21:31)
Maria
Magdalena, salah seorang pengikut dan murid Jesus, seringkali digambarkan
sebagai seorang pelacur yang diampuni Jesus (Lukas 8:2), meskipun pendapat ini
masih diperdebatkan.
Kitab Wahyu
melukiskan Roma sebagai pelacur besar yang akan dijatuhi hukuman oleh Allah:
"... sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, kerana Ialah yang telah
menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan
Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu."
(Wahyu 19:2; lih. pula Wahyu 17:1, 17:5, 17:15, 17:16). Di sini perlu diingat
bahwa Roma yang dimaksudkan oleh penulis Kitab Wahyu ini adalah pemerintahan
yang pada waktu itu menindas dan menganiaya Gereja dan orang-orang Kristian
pada masa-masa permulaan agama Kristian. Ini bermakna pelacuran itu haram.
3.
Pandangan
Agama Hindu
Dalam
pandangan umat Hindu pelacuran sangat sangat dilarang, kerana dalam Hinduisme, tubuh wanita itu ibarat susu
kehidupan bagi generasi berikutnya, mereka yang menjual dan membeli susu
kehidupan dalam pandangan hindu hukumnya adalah kutukan seumur hidup. Dalam
Veda(kitab agama Hindu) sendiri yang merupakan kitab suci umat hindu pelacuran
disebutkan sebagai sesuatu yang selain dipantangkan juga akan mendapatkan
kutukan sebanyak 7 keturunan.
4.
Pandangan
Agama Buddha
Dalam
kitab suci agama Buddha, pelacuran jelas jelas dilarang
kerana tidak sesuai dengan keinginan Buddha.
2.3 Faktor-faktor pendukung perilaku
seks pada remaja
Pekerja
seks komersial kebanyakan terjadi pada remaja yang diawali dengan terjadinya
pergaulan kearah seks bebas. Dimana menurut para ahli, alasan seorang remaja
melakukan seks adalah sebagai berikut:
1)
Tekanan
yang datang dari teman pergaulannya
Lingkungan
pergaulan yang dimasuki oleh seorang remaja dapat juga berpengaruh untuk
menekan temannya yang belum melakukan hubungan seks. Bagi remaja tersebut
tekanan dari teman-teman nya itu dirasakan lebih kuat dari pada yang
didapat dari pacarnya sendiri.
2)
Adanya
tekanan dari pacar
Karena
kebutuhan seorang untuk mencintai dan dicintai, seseorang harus rela melakukan
apa saja terhadap pasangannya, tanpa memikirkan resiko yang akan
dihadapinya.Dalam hal ini yang berperan bukan saja nafsu seksual, melainkan
juga sikap memberontak terhadap orang tuanya. Remaja lebih membutuhkan suatu
hubungan, penerimaan, rasa aman, dan harga diri selayaknya orang dewasa.
3)
Adanya
kebutuhan badaniah
Seks
menurut para ahli merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan seseorang. Jadi wajar jika semua orang tidak terkecuali remaja,
menginginkan hubungan seks ini, sekalipun akibat dari perbuatannya tersebut
tidak sepadan dengan resiko yang dihadapinya.
4)
Rasa
penasaran
Pada
usia remaja, keingintahuannya begitu besar terhadap seks, apalagi jika
teman-temannya mengatakan bahwa terasa nikmat, ditambah lagi adanya infomasi
yang tidak terbatas masuknya, maka rasa penasaran tersebut semakin mendorong
mereka untuk lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan sesuai dengan
apa yang diharapkan.
5)
Pelampiasan
diri
Faktor
ini tidak hanya datang dari diri sendiri, misalnya karena terlanjur berbuat,
seorang remaja perempuan biasanya berpendapat sudah tidak ada lagi yang dapat
dibanggakan dalam dirinya, maka dalam pikirannya tersebut ia akan merasa
putus asa dan mencari pelampiasan yang akan menjerumuskannya dalam
pergaulan bebas.
Faktor
lainnya datang dari lingkungan keluarga.Bagi seorang remaja mungkin aturan yang
diterapkan oleh kedua orang tuanya tidak dibuat berdasarkan kepentingan kedua
belah pihak (orang tua dan anak), akibatnya remaja tersebut merasa tertekan
sehingga ingin membebaskan diri dengan menunjukkan sikap sebagai pemberontak,
yang salah satunya dalam masalah seks.
Untuk
mencegah hal-hal yang tidak di kehendaki, perlu ada perhatian dari kita bersama
dengan cara memberikan informasi yang cukup mengenai pendidikan seks dan
Pendidikan agama.Kalau tidak ada informasi dan pendidikan agama di khawatirkan
remaja cendrung menyalah gunakan hasrat seksualnya tanpa kendali dan tanpa
pencegahan sama sekali. semua menyedihkan, dan sekaligus berbahaya, hanya
karena kurangnya tuntunan seksualitas yang merupakan bagian dari kemanusiaan
kita sendiri.
2.4 Ciri khas PSK
Ada beberapa ciri khas seorang
pelacur / Pekerja seks komersial
1)
Wanita,
lawan pelacur adalah gigolo (pelacur pria)
2)
Biasanya cantik, ayu, rupawan, manis,
atraktif, menarik
3)
Muda
4)
Pakaian
mencolok, beraneka warna, eksentrik
5)
Teknik seksual mekanistik, cepat, tidak
hadir secara psikis
6)
Mobile
7)
Biasanya berasal dari strata ekonomi
dan social rendah, tidak
mempunyai ketrampilan khusus,
berpendidikan rendah. Sedangkan pelacur
kelas tinggi biasanya berpendidikan tinggi, beroperasi secara amateur atau
professional.
8)
60-80 % intelektual norma.
9)
Mereka memperlihatkan penampilan
lahiriah seperti : wajah,
rambut,
pakaian, alat kosmetik, parfum yang merangsang.
2.5 Kategori PSK
Peristiwa pelacuran timbul akibat
adanya dorongan seks yang tidak terintergrasi dengan kepribadian pelakunya.
Dari impuls-impuls seks yang tidak terkendali oleh hati nurani tersebut dipakailah
teknik seksual yang kasar dan provokatif dan berlangsung tanpa afeksi an
perasaan emosi serta kasih sayang.
Perbuatan melacur dilakukan sebagai kegiatan sambilan
atau pengisi waktu senggang, ataupun sebagai pekerjaan penuh (profesi). Pada
tahun 60-an dinas social menggunakan istilah wanita tuna susila (WTS) bagi
pelacur wanita sedangkan pelacur pria disebut gigolo. Bentuk kegiatan atau
tingkah laku manusia yang termasuk dalam kategori pelacuran adalah :
1)
pergundikan, pemeliharaan istri tidak
resmi, mereka hidup sebagai
suamiistri,
namun tanpa ikatan perkawinan atau nikah.
2)
Tante Girang. Wanita yang sudah kawin,
tetapi sering melakukan
perbuatan erotik dan seksual dengan pria lain secara
iseng untuk pengisi waktu dengan bersenang-senang, untuk mendapatkan pengalaman
seks, atau secara intersensional untuk mendapatkan penghasilan.
3)
Gadis Panggilan. Gadis atau wanita yang
menyediakan diri untuk
dipanggil dan dipekerjakan sebagai
pelacur, melalui saluran
tertentu. Pada umumnya terdiri
ibu-ibu, pelayan took, pegawai,
buruh, siswi sekolah, dan mahasiswi.
4)
Gadis bar. Gadis yang bekerja sebegai
pelayan bar, yang sekaligus
bersedia memberikan pelayanan seks
kepada para pengunjug.
5)
Gadis Juvenil Deliquent. Gadis muda
jahat yang didorong oleh
emosi yang tidak matang dan keterbelakangan
intelek, serta pasif.
Muah menjadi pecandu minuman keras
atau narkoba, sehingga
mudah tergiur untuk melakukan
perbuatan immoral seksual dan
pelacuran.
6)
Gadis Binal (free girls). Gadis sekolah
atau putus sekolah, akademi
dan fakultas,yang berpendirian
menyebarluaskan kebebasan seks
secara ekstrim untuk mendapatkan
kepuasan seksual.
7)
Taxi Girls. Wanita atau gadis panggilan
yang ditawarkan dan
dibwa ketempat plesiran dengan taksi
atau becak.
8)
Penggali Emas (gold-digger). Gadis atau
wanita cantik, ratu
kecantikan, pramugari, penyanyi,
aktris anak wayang dll. Pada
umumnya mereka sulit untuk diajak bermain seks, yang diutamakan
dengan kelihaiannya dapat menggali emas dan kekayaan dari kekasihnya.
9)
Hostess (pramuria). Gadis atau wanita
yang menyemarakkan
kehidupan malam dan nightclub dan merupakan bentuk
pelacuran halus. Hostess harus melayani makan, minum
dan memuaskan naluri seks sehingga pelanggan dapat menikmati keriaan suasana
tempat hiburan.
10)
Promikuitas. Hubungan seks secara bebas
dan awut-awutan dengan
sembarangan pria juga dilakukan
dengan banyak lelaki.
2.6
Faktor-faktor penyebab adanya PSK
(pekerja seks komersial):
1.
Kemiskinan
Diantara alasan penting yang melatar belakangi adalah
kemiskinan yang sering bersifat structural. Struktur kebijakan tidak memihak
kepada kaum yang lemah sehingga yang miskin semakin miskin, sedangkan
yang kaya semakin menumpuk harta kekayaannya.
Kebutuhan yang semakin banyak bagi seorang perempuan
dan tekanan moral dari keluarga memaksa dia untuk mencari sebuah pekerjaan
dengan penghasilan yang memuaskan sehingga pekerjaan yang harampun jadi
pilihan mereka, karena kondisikebutuhan materi yang menuntut.
2.
Kekerasan
seksual
Penelitian menunjukkan banyak faktor penyebab perempuan
menjadi PSKdiantaranya kekerasan seksual seperti perkosaan oleh bapak kandung,
paman, guru dan sebagainya.
3.
Penipuan
Faktor lain yaitu, penipuan dan pemaksaan dengan
berkedok agen penyalur tenaga kerja. Kasus penjualan anak perempuan oleh
orangtua sendiri pun juga kerap ditemui.
4.
Pornografi
Menurut definisi Undang-undang Anti Pornografi, pornografi
adalah bentuk ekspresi visual berupa gambar, tulisan, foto, film atau
yang dipersamakan dengan film, video, tayangan atau media komunikasi lainnya
yang sengaja dibuat untuk memperlihatkan secara terang-terangan atau tersamar
kepada public alat vital dan bagian – bagian tubuh serta gerakan-gerakan erotis
yang menonjolkan sensualitas dan seksualitas, serta segala bentuk perilaku
seksual dan hubungan seks manusia yang patut diduga menimbulkan rangsangan
nafsu birahi pada orang lain.
2.7
Persoalan – persoalan psikologis
1.
Akibat
gaya hidup modern
Seseorang perempuan pastinya ingin tampil dengan keindahan
tubuh dan barang-barang yang dikenakannya. Namun ada dari beberapa mereka yang
terpojok karena masalah keuangan untuk pemenuhan keinginan tersebut maka mereka
mengambil jalan pintas dengan menjadi PSK untuk pemuasan dirinya.
2.
Broken
home
Kehidupan keluarga yang kurang baik dan tidak harmonis dapat
memaksa seseorang remaja untuk melakukan hal - hal yang kurang baik di luar
rumah dan itu dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab dengan
mengajaknya bekerja sebagai PSK.
3.
Kenangan
masa kecil yang buruk
Tindak pelecehan yang semakin meningkat pada seorang perempuan
bahkan adanya pemerkosaan pada anak kecil bisa menjadi faktor dia menjadi
seorang PSK.
2.8 Dampak yang ditimbulkan bia seseorang bekerja
sebagai PSK (pekerja seks komersial) :
1.
Keluarga
dan masyarakat tidak dapat lagi memandang nilainya
sebagai
seorang perempuan.
2.
Stabilitas
sosial pada dirinya akan terhambat, karena masyarakat hanya akan selalu
mencemooh dirinya.
3.
Memberikan
citra buruk bagi keluarga.
4.
Mempermudah
penyebaran penyakit menular seksual, seperti penykit kelamin, sifilis,
hepatitis B HIV/AIDS
2.9 Penanganan
masalah PSK
1.
Keluarga
2.
Masyarakat
Meningkatkan kepedulian dan
melakukan pendekatan terhadap kehidupan PSK.
3.
Pemerintah
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Prostitusi
Prostitusi merupakan masalah dan
patologi sosial sejak sejarah kehidupan manusia sampai sekarang. Usaha
penanggulangannya sangat sukar sebab harus melalui proses dan waktu yang
panjang serta biaya yang besar. Usaha mengatasi tuna susila pada umumnya
dilaukan secara preventif dan represif kuratif.
1.
Menurut jumlahnya, prostitusi dibagi
dalam :
- Individual
- Bantuan organisasi dan sindikat
2.
Menurut
lokasinya :
- Setartegis/lokalisasi
- Dibalik
front organisasi/bisnis terhormat
3.
Klasifikasi :
- Sektor formal
(kompleks lokalisasi, panti pijat, club malam, perempuan pendamping, penyedia perempuan panggilan)
- Sektor informal
(berorientasi secara tidak tetap)
Usaha yang bersifat preventif diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan untuk
mencegah terjadinya pelacuran. Kegiatan yang
dimaksud berupa :
1)
Penyempurnaan undang-undang tentang
larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran.
2)
Intensifikasi pendidikan keagamaan dan kerohanian,
untuk menginsafkan kembali dan memperkuat iman terhadap nilai religius serta
norma kesusilaan.
3)
Bagi anak puber dan remaja ditingkatkan
kegiatan seperti olahraga dan rekreasi, agar mendapatkan kesibukan, sehingga
mereka dapat menyalurkan kelebihan energi.
4)
Memperluas lapangan kerja bagi kaum
wanita disesuaikan dengan kodratnya dan bakatnya, serta memberikan gaji yang
memadahi dan dapat untuk membiayai kebutuhan hidup.
5)
Diadakan pendidikan seks dan pemahaman
nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga.
6)
Pembentukan team koordinasi yang
terdiri dari beberapa instansi dan mengikutsertakan masyarakat lokal dalam
rangka penanggulangan prostitusi.
7)
Penyitaan, buku, majalah, film, dan
gambar porno sarana lain yang merangsang nafsu seks.
8)
Meningkatkan kesejahteraan seks.
Sedangkan usaha-usaha yang bersifat
represif kuratif dengan tujuan untuk menekan, menghapus dan menindas, serta
usaha penyembuhan para wanita tuna susila, untuk kemudian dibawa kejalan yang
benar. Usaha tersebut antara lain sebagai berikut :
1.
Melakukan kontrol yang ketat terhadap
kesehatan dan keamanan para pelacur dilokalisasi.
2.
Mengadakan rehabilitasi dan
resosialisasi, agar mereka dapat dikembalikan sebagai anggota masyarakat yang
susila. Rehabilitasi dan resosialisasi dilakukan melalui pendidikan moral dan
agama, latihan kerja, pendidikan ketrampilan dengan tujuan agar mereka menjadi
kreatif dan produktif.
3.
Pembinaan kepada para WTS sesuai dengan
bakat minat masing-masing.
4.
Pemberian pengobatan (suntiakan) paa
interval waktu yang tetap untuk menjamin kesehatan dan mencegah penularan
penyakit.
5.
Menyediakan lapangan kerja baru bagi
mereka yangbersedia meninggalkan profesi pelacur, dan yang mau memulai hidup
susila.
6.
Mengadakan pendekatan kepada pihak
keluarga dan masyarakat asal pelacur agar mereka mau menerima kembali mantan
wanita tuna susila untuk mengawali hidup barunya.
7.
Mencarikan pasangan hidup yang permanen
(suami) bagi para wanita tuna susila untuk membawa mereka ke jalan yang benar.
8.
Mengikutsertakan para wanita WTS untuk
berpratisipasi dalam rangka pemerataan penduduk di tanah air dan perluasan
esempatan bagi kaum wanita.
3.2 Motif yang melatar belakangi PSK
Motif-motif yang
melatarbelakangi seseorang menjadi pelacur / PSK
1) Kesulitan hidup
2) Nafsu seks abnormal
3) Tekanan ekonomi
4) Aspirasi materil tinggi
5) Kompensasi terhadap perasaan inferior
6) Ingin tahu pada masalah seks
7) Pemberontakan terhadap otoritas orang tua
8) Simbol keberanian dan kegagahan
9) Bujuk rayu laki-laki dan/calo
10) Stimulasi seksual melalui film, gambar, bacaan
12) Pelayan dan pembantu Rumah tangga
13) Penundaan pernikahan
14) Disorganisasi dan disintegrasi
kehidupan keluarga
15) Mobilitas pekerjaan atau jabatan
pria
16) Ambisi besar mendapatkan status
sosial ekonomi tinggi
17) Mudah dilakukan
18) Pecandu narkoba
19) Traumatis cinta
20) Ajakan teman
21) Tidak dipuaskan pasangan/suami
3.3 Akibat menjadi pelacur / PSK
Praktek-praktek pelacuran biasanya
ditolak oleh masyarakat dengan cara mengutuk keras, serta memberikan hukuman
yang berat bagi pelakunya. Namun demikian ada anggota masyarakat yang bersifat
netral dengan sikap acuh dan masa bodoh. Disamping itu ada juga yang menerima
dengan baik. Sikap menolak diungkapkan dengan rasa benci, jijik, ngeri, takut
dll. Perasaan tersebut timbul karena prostitusi dapat mengakibatkan sebagai
berikut. :
a.
Menimbulkan dan menyebarkan penyakit
kelamin dan penyakit kulit. Penyakit kelamin tersebut adalah sipilis dan
gonorrgoe. Keduanya dapat mengakibatkan penderitanya menjadi epilepsi,
kelumpuhan, idiot psikotik yang berjangkit dalam diri pelakunya dan juga kepada
keturunan.
b.
Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga,
sehingga keluarga menjadi berantakan.
c.
Memberi pengaruh demoralisasi kepada
lingkungan, khususnya remaja dan anak-anak yang menginjak masa puber.
d.
Berkorelasi dengan kriminalitas dan
kecanduan minuman keras dan obat terlarang (narkoba).
e.
Merusak sendi-sendi moral, susila,
hukum dan agama.
f.
Terjadinya eksploitasi manusia oleh
manusia lain yang dilakukan oleh germo, pemeras dan centeng kepada pelacur.
g.
Menyebabkan terjadi disfungsi seksual
antaralain : impotensi, anorgasme.
h.
Kebiasaan
buruk, Badan lemas dan lelah,Badan dimanipulir dan di eksploitasi
i.
Kekerasan
j.
Penghasilan
lambat laun menurun
k.
Usia lebih dari 30 tahun biasanya
mengalami konflik jiwa
3.4
Masalah-masalah
yang timbul dari PSK
Beberapa masalah yang timbul karena
menjadi PSK, antara lain :
1) Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti, HIV/AIDS.
2) Timbul kehamilan yang pada umumnya
tidak diinginkan
3) Timbul Kekerasan
4) Mengganggu ketenangan lingkungan
tempat tinggal
3.5
PSK Pekerjaan
tak bermoral
Faktor-faktor yang menyebabkan PSK dianggap sebagai
pekerjaan yang tidak bermoral :
1) Pekerjaan ini identik dengan perzinahan
yang merupakan suatu
kegiatan seks yang dianggap tidak
bermoral oleh banyak agama
2) Perilaku seksual oleh masyarakat
dianggap sebagai kegiatan yang
berkaitan dengan tugas reproduksi yang
tidak seharusnya digunakan
secara bebas demi untuk memperoleh
uang.
3) Pelacuran dianggap sebagai ancaman
terhadap kehidupan keluarga
yang dibentuk melalui perkawinan dan
melecehkan nilai sakral
perkawinan.
4) Kaum wanita membenci pelacuran
karena dianggap sebagai pecuri
cinta dari laki-laki (suami) mereka
sekaligus pencuri hartanya.
3.6 Peran
sebagai petugas kesehatan
Peran sebagai petugas kesehatan dalam masalah pekerja
seks komersial yaitu :
1) Memberikan pelayanan secara sopan
seperti melayani pasien-pasien yang
lain
2) Belajar membuat diagnosa dan
mengobati PMS
3) Mengenal
berbagai jenis obat yang masih efektif, terbaru, murah dan cobalah menjaga kelangsungan pengadaan obat
4) Cari pengadaan kondom yang cukup dan
rutin bagi masyarakat.
5) Memastikan
ketersediaan pelayanan kesehatan termasuk KB, perawatan PMS dan obat yang terjangkau serta
penanggulangan obat terlarang
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Seseorang
menjadi PSK adalah alasan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan
keluarganya, tingkat pendidikan PSK sangat rendah, sebagian besar tamatan
sekolah dasar (SD) dan beberapa tidak mengenyam pendidikan dasar sama sekali,
pendidikan rendah dan minimnya keahlian dan sempitnya lapangan pekerjaan
membuat wanita nekad untuk bekerja sebagai PSK yang rendah.
Respon
masyarakat sekitar terhadap lokalisasi prostitusi, beragam ada yang setuju
karena keberadaan lokalisasi prostitusi dapat memberikan tambahan
penghasilan utama bagi pedagang dan pihak yang menyewa rumah nya untuk praktek
prostitusi, sedangkan masyarakat yang tidak setuju adanya praktek prostitusi
lebih banyak memberikan dampak buruk keresahan karena banyak di jumpai
pelanggan dan PSK selain terjadinya perzinahan dan menimbukan suara bising
akibat kendaraan maupun musik yang di putar terlalu keras.
4.2
Saran
Berdasarkan
dari hasil penelitian bagi pemerintah, perlu adanya peningkatan pendidikan,
pelatihan keahlian, kemudian pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi wanita,
terutama di daerah penduduk yang banyak PSK.
Bagi
masyarakat, peningkatan kesadaran bahwa lokalisasi prostitusi adalah bagian
dari penyakit masyarakat, sehingga ada upaya untuk saling menjaga sesama
anggota masyarakat dari pengaruh buruk lokalisasi prostitusi, masyarakat
mestinya dapat menerima dengan baik PSK yang berniat untuk bertobat kembali
hidup normal.
DAFTAR PUSTAKA
Blogspot. (2010),
Pekerja Seks komersial, http://ekanurmawaty.blogspot.com/2010/03/makalah-pekerja-seks-komersial.html (Diakses
7 : 30, 10 April 2014)
Blogspot. (2012) PSK, http://chuznulmarmutz.blogspot.com/
(Diakses 8:05, 10 April 2014)
Blogspot. (2011),
Makalah Kespro Pegawai Seks Komersial, http://hendracliquerz001.blogspot.com/2011/05/makalah-kespro-pekerja-seks-komersial.html
(Diakses 9:25, 10 April 2014)
Blogspot. (2012),
Makalah PSK, http://dfggbggb.blogspot.com/2012/10/makalah-psk.html (Diakses 11. 55,10 April 2014)
Wikipedia. (2013),
Pelacuaran, http://id.wikipedia.org/wiki/Pelacuran
(Diakses 12.41, 10 April 2014)
Wikipedia. (2013),
Pelacur Menurut Agama, http://id.wikipedia.org/wiki/Pelacuran_menurut_agama
(Diakses 12.44 , 14 April 2014)
Langganan:
Komentar (Atom)









.jpg)









